Oleh: dika | 25 Juli 2009

Islamic Calendar

Oleh: dika | 10 Juli 2009

SLG ada Tamu nie…

Wow……Bupati Kediri, Bapak Sutrisno, mengundang Asosiasi Pengelola Pusat Belanja (APPBI) Jatim pada hari Rabu tanggal 17 bulan Desember tahun kemarin. Para pengelola pusat belanja ini ditunjukkan lokasi calon Kota Baru Simpang Lima Gumul (SLG) di Desa Tugurejo, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri. SLG adalah megaproyek yang didanai ratusan miliar rupiah dari APBD. Namun calon kota baru tersebut masih berupa jalan melingkar. Megaproyek Pemkab Kediri ini sekarang baru berupa monumen SLG, infrastruktur jalan, dan lahan parkir. “Makanya, kami hadirkan pengusaha. Mereka bisa lihat sendiri potensi SLG dan selanjutnya menangkap peluang untuk mengembangkan usahanya,” terang Bapak Sutrisno sambil mendampingi tamu-tamunya.
Sebanyak 15 anggota APPBI Jatim datang melihat sendiri lokasi calon Kota Baru SLG seluas 40 haktare tersebut. Hampir semua gabungan para pengusaha tersebut tidak tahu kalau di Kabupaten Kediri terdapat megaproyek yang siap menyediakan lokasi untuk pusat perdagangan. (Sumber: Surya dengan sedikit pengubahan)

Oleh: dika | 10 Juli 2009

Realisasi jalur Ringroad Kediri

Kebutuhan jalan sistem ring road di Kota Kediri dianggap semakin mendesak. Ini karena kepadatan lalu lintas di dalam kota kita tercinta ini semakin tinggi. Apalagi pada jam-jam sibuk di hari kerja. Kita lihat saja di Jalan Veteran, Diponegoro, Joyoboyo dll. Apalagi pada waktu jam-jam masuk dan pulang sekolah.
Mengenai rencana pembangunan ring road sebenarnya sudah digagas sejak lama. Bahkan sudah pernah dibuat studi kelayakan atau feasibility study (FS) oleh pemerintah provinsi (pemprov) sekitar 15 tahun lalu. Hasilnya pun dinyatakan layak. Namun, hingga kini belum ada tindak lanjut dari pemkot.
Bagaimana dengan rute ring road yang pernah direncanakan? Menurut beberapa sumber rute  akan bermula dari Perempatan Jong Biru, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri. Setelah itu berbelok ke timur menuju Gurah dan Simpang Lima Gumul (SLG). Selanjutnya masuk Tempurejo, Kecamatan Pesantren, Betet, Blabak, Manisrenggo, Ngronggo, tembus ke gelanggang olah raga (GOR). Dari Pertigaan Ngronggo ke GOR yang berada di perbatasan Bandarkidul dan Banjarmlati dibangun jembatan. Kemudian belok kanan hingga Perempatan Kemuning sebelum menuju Terminal Tamanan.
Dengan tidak adanya ring road, semua kendaraan bisa masuk ke dalam kota. Baik yang berukuran kecil maupun besar seperti bus dan truk tronton. Padahal, kelas jalannya tidak sesuai. Kendaraan-kendaraan besar dengan berat di atas delapan ton seharusnya  dilewatkan jalan dengan kelas II. Sementara, sebagian besar jalan-jalan di dalam kota berkelas III.
Beberapa pihak dan masyarakat telah setuju, mendukung dan merespon positif rencana realisasi pembangunan ring road, begitu pula warga yang akan dilewati rute jalan lingkar tersebut . Warga juga tidak keberatan bahkan menyambut senang. Mereka merelakan tanahnya jika harus terkena proyek pelebaran jalan demi pembangunan ring road. Asalkan, kompensasinya jelas dan tidak merugikan. Sebab, hal itu akan bisa mengurangi kepadatan lalu lintas di dalam kota. Semakin lama, jumlah kendaraan pasti akan semakin banyak. Kota pun akan semakin macet, bukan?
Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Kediri Bambang Basuki Hanugerah mengatakan bahwa pembangunan ring road belum memungkinkan dilakukan dalam waktu dekat. Sebab, membutuhkan dana yang sangat besar serta mencakup wilayah yang berbeda.
Yang paling memungkinkan untuk mengatasi kepadatan lalu lintas di dalam kota, kata Bambang, adalah traffic engineering. Itu pun baru untuk kendaraan angkutan dari arah Blitar dan Tulungagung. Dari Perempatan Bence, kendaraan diarahkan menuju Rumah Sakit (RS) Baptis dan Pesantren. Kemudian melewati Simpang Lima Gumul (SLG). Dari sana, bisa langsung ke Pare. Yang ke Jombang lewat Tebuireng lewat jalur selama ini sedangkan yang ke Kertosono belok ke Plemahan kemudian Papar. “Ini rencana untuk lima tahun ke depan,” kata Bambang. (Sumber : Jawapos dengan beberapa perubahan)

Oleh: dika | 8 Juli 2009

Jalan Dhohoku, membingungkan…!

Jalan DhohoJalan Dhoho, ketika menyebut nama terbayang sebuah jalan pusat ekonomi di Kediri yang penuh dengan deretan toko-toko, keramaian, suara lagu-lagu penghibur di tiap toko atau pedagang CD kaki lima, dan tak ketinggalan menyempitnya jalan karena banyaknya kendaraan yang terparkir. Huhh… Melelahkan…!
Berbicara mengenai parkir kendaraan, di tiap-tiap area Jalan Dhoho saya amati telah ada tulisan ” Bebas retribusi dan parkir kendaraan.” Tapi yang saya herankan mengapa biasanya saya lihat kok tetap ada pungutan…? Kalau waktu di jalan Dhoho sendiri sih saya belum pernah ditarik pungutan seperti itu, tapi untuk di gang-gang atau jalan keluar dari Jalan Dhoho seperti jalan ke Jalan Sriwijaya saya pernah melihat ada pungutan. padahal tukang parkirnya juga memakai seragam ala tukang parkir Kediri umumnya. Apakah mungkin di jalan-jalan itu memang tidak berlaku? Tetapi kata teman saya kalu malam hari sering ada pungutan seperti itu. Ataukah kalau malam aturan bebas retribusi dan parkir kendaraan itu tidak berlaku?
Kalau saya pikir jadi tukang parkir Jalan Dhoho jika tidak ada pembebasan retribusi mungkin akan kaya raya. Bayangkan setiap tukang parkir biasanya menguasai daerah dengan panjang kurang lebih 70 meter. Ukuran seperti itu dapat dipenuhi motor 65 buah. Dikali 2 karena biasanya area parkir itu bisa untuk 2 baris untuk motor. Jadi total kapasitasnya 130 buah motor. Jika tiap motor Rp 500,00 dan kapasitasnya 100 motor, tukang parkir mendapat upah Rp 50.000,00. Itu hanya sekali waktu, kalau 3 kali saja, per hari Rp 150.000,00. Per bulannya Rp 4.500.000,00. Puihh…! jadi kalau begitu tidak salah kalau tukang parkir tetap tergiur untuk memunguti. Dan saya sangat setuju jika uang parkir dibebaskan. Jadi kita hanya membayar uang parkir untuk jangka 1 tahun ketika meng”her”kan motor kita. Jadi uangnya terkumpul yang nantinya juga untukkita bersama. Untuk mewujudkan Kota Kediri benar-benar bersemi.
Pokoknya intinya saya berharap kepada pemerintah segera menangani dan menindak lanjuti jika terjadi aksi-aksi pendzoliman seperti itu. Untuk masyarakat pecinta Jalan Dhoho jangan mau kalau ditarik uang parkir. Kecuali kalau dia memaksa dengan cara kekerasan. Tinggal teriak saja, TAHU KUNING…… TAHU KUNING……….!?

Oleh: dika | 6 Juli 2009

Jembatan Lamaku

Jembatan Lama Sekarang

Keberadaan sebuah kota tidak pernah lepas keberadaannya akan sebuah kata “POLUTION.” Bahkan mungkin polusi manjadi suatu indikator kamajuan atau perkembangan dunia industri kota itu sendiri. Tak terkecuali Kota Tahu tercinta kita ini, Kediri. Kediri sebagai salah satu kota di Jawa Timur keberadaannya dirasa sudah banyak polusi dimana-mana. Entah itu polusi uadara, air, tanah atau mungkin polusi-polusi yang lain. Tak jarang akhir-akhir ini ketika saya lewat Jembatan Lama, saya menengok ke bawah banyak sekali sampah-sampah plastik terapung, banyak pula juga yang tersangkut di tiang-tiang penyangga jembatan yang telah ada sejak zaman penjajahan Belanda itu. Belantaran sungai Berantas pun tidak ketinggalan. Ironisnya lagi, saya pernah melihat pak penjaga kebersihan Jembatan Lama itu membuang sampah -sampah hasil sapuannya langsung ke sungai dan belantaran. Yah meskipun sampah plastiknya cuma sedikit sih, tetapi kan itu juga menyumbang polusi sungai Brantas kita tercinta bukan? Coba bayangkan jika tiap satu orang yang lewat Jembatan Lama membuang satu sampah langsung ke bawah jembatan. Alamak…! Sampah-sampah itu akan menggunung di bendungan Waru Turi Gampengrejo sana…! Terus apa yang akan terjadi selanjutnya? Banjir, saluran-saluran sungai tersumbat dll.
Maka dari itu sebagai warga Kediri, marilah kita jaga karunia Tuhan ini. Kita rawat, kita pelihara dan sehingga dapat memberikan kemaslahatan untuk kita bersama pula. Pertahankan piala Adipura, tingkatkan kepedulian akan lingkungan. Oke Bozz…!? Kediri… Yeah…!

Oleh: dika | 21 Juni 2009

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.