Oleh: dika | 10 Juli 2009

Realisasi jalur Ringroad Kediri

Kebutuhan jalan sistem ring road di Kota Kediri dianggap semakin mendesak. Ini karena kepadatan lalu lintas di dalam kota kita tercinta ini semakin tinggi. Apalagi pada jam-jam sibuk di hari kerja. Kita lihat saja di Jalan Veteran, Diponegoro, Joyoboyo dll. Apalagi pada waktu jam-jam masuk dan pulang sekolah.
Mengenai rencana pembangunan ring road sebenarnya sudah digagas sejak lama. Bahkan sudah pernah dibuat studi kelayakan atau feasibility study (FS) oleh pemerintah provinsi (pemprov) sekitar 15 tahun lalu. Hasilnya pun dinyatakan layak. Namun, hingga kini belum ada tindak lanjut dari pemkot.
Bagaimana dengan rute ring road yang pernah direncanakan? Menurut beberapa sumber rute  akan bermula dari Perempatan Jong Biru, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri. Setelah itu berbelok ke timur menuju Gurah dan Simpang Lima Gumul (SLG). Selanjutnya masuk Tempurejo, Kecamatan Pesantren, Betet, Blabak, Manisrenggo, Ngronggo, tembus ke gelanggang olah raga (GOR). Dari Pertigaan Ngronggo ke GOR yang berada di perbatasan Bandarkidul dan Banjarmlati dibangun jembatan. Kemudian belok kanan hingga Perempatan Kemuning sebelum menuju Terminal Tamanan.
Dengan tidak adanya ring road, semua kendaraan bisa masuk ke dalam kota. Baik yang berukuran kecil maupun besar seperti bus dan truk tronton. Padahal, kelas jalannya tidak sesuai. Kendaraan-kendaraan besar dengan berat di atas delapan ton seharusnya  dilewatkan jalan dengan kelas II. Sementara, sebagian besar jalan-jalan di dalam kota berkelas III.
Beberapa pihak dan masyarakat telah setuju, mendukung dan merespon positif rencana realisasi pembangunan ring road, begitu pula warga yang akan dilewati rute jalan lingkar tersebut . Warga juga tidak keberatan bahkan menyambut senang. Mereka merelakan tanahnya jika harus terkena proyek pelebaran jalan demi pembangunan ring road. Asalkan, kompensasinya jelas dan tidak merugikan. Sebab, hal itu akan bisa mengurangi kepadatan lalu lintas di dalam kota. Semakin lama, jumlah kendaraan pasti akan semakin banyak. Kota pun akan semakin macet, bukan?
Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Kediri Bambang Basuki Hanugerah mengatakan bahwa pembangunan ring road belum memungkinkan dilakukan dalam waktu dekat. Sebab, membutuhkan dana yang sangat besar serta mencakup wilayah yang berbeda.
Yang paling memungkinkan untuk mengatasi kepadatan lalu lintas di dalam kota, kata Bambang, adalah traffic engineering. Itu pun baru untuk kendaraan angkutan dari arah Blitar dan Tulungagung. Dari Perempatan Bence, kendaraan diarahkan menuju Rumah Sakit (RS) Baptis dan Pesantren. Kemudian melewati Simpang Lima Gumul (SLG). Dari sana, bisa langsung ke Pare. Yang ke Jombang lewat Tebuireng lewat jalur selama ini sedangkan yang ke Kertosono belok ke Plemahan kemudian Papar. “Ini rencana untuk lima tahun ke depan,” kata Bambang. (Sumber : Jawapos dengan beberapa perubahan)


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.